Apa yang akan ikhwah fillah lakukan begitu antum/na tahu masa depan berjalan tidak seperti yang ikhwah fillah inginkan?

Jika saya ditanya hal ini berbulan-bulan yang lalu… jawabannya akan jauh berbeda dengan jawaban hari ini. Hari ini saya akan menjawab…

Saya akan buru-buru menggulung lembaran kehidupan masa depan yang sudah penuh coretan-coretan sketsa mimpi-mimpi saya itu, lalu segera membentangkan lembaran baru… membuat sketsa baru tentang kehidupan saya dimasa depan. Meskipun sungguh pasti amat berat meruntuhkan semua konstruksi mimpi-mimpi itu, tapi itu jauh lebih manis ketimbang harus melihatnya runtuh oleh terpaan angin yang entah datang dari mana.

Saya memilih untuk percaya bahwa ada interkoneksi antara hati dari setiap orang. Hati kita ibarat pemancar gelombang radio yang juga berfungsi menerima pancaran dari pemancar lainnya. Masalahnya, kadang ego dan emosi kita berada dalam posisi yang dominan sehingga mata hati kita menjadi rabun, tak mampu menangkap sinyal-sinyal yang datang. Jangan dilupakan  pula, bahwa setiap jengkal kehidupan kita tidak lepas sedikitpun dari campur tangan-Nya. Adakalanya sinyal-sinyal itu terbelok, menguat, melemah, atau pupus sama sekali sesuai apa yang Ia kehendaki. Dan tiada satupun kita yang mampu mengelak dari ketentuannya yang Maha Mutlak.

Interkoneksi antar setiap orang inilah yang membuat seorang ibu tidak perlu menunggu keluh kesah anaknya untuk mengetahui saat anaknya membutuhkan sesuatu. Interkoneksi ini jugalah yang membuat seseorang dapat merasakan kegundahan saudaranya dan menawarkan bantuan meskipun tidak satu katapun terucap. Interkoneksi ini lah yang membuat seseorang mampu memprediksi masa depan hanya dalam satu atau dua blink saja… meskipun argumen-argumen logisnya baru terasionalisasi beberapa waktu setelahnya. Isyarat-isyarat itu, kita menyebutnya firasat… intuisi… bashirah… wangsit dll. Kadang isyarat itu sering tercampur aduk dengan ilusi paranoia, sikap apriori, sugesti pribadi, rasa percaya diri yang berlebihan yang kesemuanya bersumber dari ego yang didasari logika-logika dangkal dan pembenaran-pembenaran absurd.

Jujur, saya tidak pernah tahu atau memprediksi apakah yang akan terjadi hari ini, esok atau lusa. Yang saya tahu adalah, jika suatu amalan/aktivitas membuat amalan sunnah kita menurun, maka ada yang salah dengan aktivitas tersebut. Jika 1 atau 2 peristiwa membuat semangat kita surut dalam menggoreskan amal, maka kita pantas mempertanyakan pada diri kita di balik hati kecil kita, tentang apa yang menjadi tujuan kita melaksanakan amal itu. Kecewa adalah satu hal yang niscaya… manusiawi… natural… menjadi sunnatullah dari sifat kebalikannya yaitu puas. Namun moment itu harus segera menjadi titik balik yang membawa perubahan diri kita menjadi sosok yang lebih baik. Mungkin ada baiknya kita pasang stopwatch untuk menguji, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk berhenti kecewa. Jika kekecewaan itu membuat diri kita stagnan berhari-hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun, maka kita wajib bertanya kembali tentang ikrar yang kita deklarasikan setidaknya 5 kali dalam sehari. Shalatku, Ibadahku, Kehidupanku dan Kematianku hanya untuk Rabb yang satu.