ttd1Bismillahirrahmanirrahim…

Seperti rutinitas biasanya kuawali hari ini dengan menyebut sebuah Zat yang Maha memberikan Kehidupan dan Kematian, Yang menciptakan segala keindahan dan keteraturan.

Kemarin adalah hari dimana aku kembali teringat dengan postingan salah satu sahabatku tentang masa depanku. Ada dua hal yang kembali meningatkanku tentang bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupan di masa yang akan datang,,,,,

Sore hari selepas pulang dari aksi Munashoroh untuk Palestina (ah…menyebut kata Palestine…hati ini seperti terenyuh…begitu banyak saudara2 kita meninggal akibat serangan ‘gila’ agresi militer Israel LAKNATULLAH, disini sebelum melanjutkan tulisan ini aku dengan segenap kemampuan yang ada kembali mengajak kepada pembaca semuanya jangan pernah berhenti untuk berjihad, kerahkan semua bantuan yang kalian punya, doa,harta,tenaga, bahkan jika kalian mampu nyawa kita sekalian kita pertaruhkan untuk Palestina, Negeri para Nabi tercinta, mereka adalah saudara kita semua….).

(Repeat…) Sore hari selepas pulang dari aksi, sekitar pukul 5 sore, sambil menunggu waktu Maghrib, aku ditelepon oleh seorang teman untuk menanyakan tentang kesiapanku untuk menikah (owh…ada apa ya?Tiba2 gitu lho). “Kak Ikin dah punya calon belum…?” Begitulah bunyi pertanyaan yang dilontarkan temanku. Pertanyaan itu seakan menjadi sebuah air yang membangunkanku dari tidur yang panjang (wahha….lebay bgt ya). Mengingatkan akan langkah2ku menuju masa depan, kemana kau kan melangkah, Kins? Sampai saat ini seakan aku hidup bagai sebuah koin, disatu sisi sejujurnya keinginan untuk menikah itu ada, namun disisi lain aku memiliki keluarga yang keberadaannya perlu aku prioritaskan kepentingannya, mengingat selama ini merekalah yang men’support-ku sampai aku menjadi aku seperti saat ini. Aku merasa harus membuat mereka lebih dulu merasakan kebahagiaan yang mereka dambakan selama ini. Kakakku yang lebih tua 3 tahun dariku, sampai saat ini belum menikah dan adikku juga yang hanya terpaut  satu tahun dariku dan kini sudah bekerja juga mesti didahulukan untuk urusan ini. So setelah aku pikir2 lebih matang, aku berbicaraa kepada diri sendiri…”Coba kins tenangkan diri, pikirkan kembali makna hidup yang sedang kau jalani, kita hidup hanya sementara untuk menjalani kehidupan yg lebih kekal di akhirat nanti, hidupmu bukan hanya untuk mu, hidupmu di dunia adalah untuk sebesar2 manfaat bagi orang lain termasuk keluargamu yang terdekat….jangan egois kins…pikirkan kembali rencana hidupmu yang mungkin tinggal beberapa tahun lagi, bahkan mungkin beberapa hari lagi atau mungkin beberapa detik lagi, jika Allah sudah berkehendak. Sudahkah kau memberikan yang terbaik untuk mereka??”

Yup, sejak saat itu kembali aku teringat, masa2 ketika bersama teman2 terbaik sepanjang hidup, berkumpul dan tinggal bersama 29 sahabat lainnya dibawah naungan Asrama PPSDMS Nurul Fikri. Bersama merangkai masa depan,bersatu dalam bingkai ukhuwah untuk menggapai cita. Mulai saat ini aku bertekad untuk melanjutkan cita-cita mulia itu, cita-cita yang diharapkan oleh umat, oleh orang2 yang senantiasa merindukan keadilan dan kesejahteraan negeri Indonesia..kembali merangkai rencana2 yang sempat tertunda….kembali kumulai dengan BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM….

 

Doakan ya teman2 sekalian……Semoga Allah mempertemukan kita semua di JannahNya, Amin.

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘..di dunia atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya. Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku (atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘…di dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan (tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu kepadaku.’”