imagesUsai sholat subuh berjamaah, Fikri bertanya kepada para jamaah, “nomor
sepatunya berapa?” Tentu saja beragam jawabannya, ada yang 39, 41, 42
sampai ada yang 45. Ia bermaksud meminjam sepatu untuk adik sepupunya
yang akan menjalani wawancara pekerjaan di Tangerang.

Fuad, adik sepupunya yang baru datang malam hari dari Bandung,
kehilangan sepatunya saat tengah sholat di masjid depan terminal Leuwi
Panjang, Bandung. Ia hampir tak mengenakan alas kaki berangkat ke
rumah kakaknya di Sawangan, Depok. Beruntung ada orang yang berbaik
hati memberikan sepasang sandal.

Hampir semua jamaah subuh di masjid itu berniat meminjamkan sepatu,
hanya saja yang beruntung mendapat kesempatan beramal shalih sepagi
itu adalah Arif, karena ukuran sepatunya sama persis dengan yang
diinginkan Fuad, yakni 42. Maka, bersegeralah beberapa jamaah
mengantar Fuad ke rumah Arif untuk mencoba sepatu.

Alhamdulillah sepatunya cocok di kaki Fuad, anak muda itu pun terlihat
senang. Terbuka kembali harapannya untuk mendapat pekerjaan.
Sebelumnya Fikri, sang kakak, sempat bertanya dimana toko sepatu yang
buka sebelum jam tujuh pagi. Hampir bisa dipastikan tidak ada toko
yang buka sepagi itu.

“Kaos kakinya punya?” tanya Arif lagi.

Fuad hanya menggeleng kepala, karena kaos kakinya pun ikut hilang
bersama dengan sepatunya. Tanpa banyak bicara, Arif pun bergegas ke
dalam rumahnya dan kembali dengan membawa sepasang kaos kaki. Tidak
hanya itu, Arif keluar rumah sambil membawa beberapa botol susu
instant, “Ini untuk anak-anak di rumah”

“Subhanallah… ” serempak kalimat pujian itu keluar dari mulut para
jamaah. Ada seorang jamaah yang berujar, “kita kalah set sama Arif,
sepagi ini sudah beramal shalih, berbagi kebaikan, menolong orang yang
memerlukan, dan membagi rezekinya”. Arif hanya tersenyum, tidak
sedikit pun rasa bangga terukir di hatinya.

Sementara itu, usai mencoba sepatu milik Arif, Fuad mengucapkan terima
kasih atas kebaikan saudara barunya itu. “Terima kasih Pak Arif, nanti
setelah pulang wawancara saya akan kembalikan…”

“Tenang saja, dipakai terus pun tidak apa-apa,” jawab Arif. Lagi-lagi
kalimat pujian kepada Allah terucap, “Subhanallah… ”

Ummat Islam dimanapun sebenarnya kaya raya, tidak ada yang miskin
kecuali ia yang merasa miskin. Sepanjang ia memiliki saudara-saudara
yang perhatian, peduli, dan mengutamakan kepentingan saudaranya.
Sesulit apapun kehidupan ini, akan terasa mudah jika setiap beban
dipikul bersama-sama. Seberat apapun cobaan yang diderita seorang
muslim, jika ia memiliki saudara yang sangat peduli, semua akan
menjadi ringan.

Fragmen seperti kisah Fikri, Fuad dan Arif pasti banyak terjadi di
berbagai tempat. Berbagai episode selalu diputar berulang-ulang dalam
perjalanan kehidupan bermasyarakat di negeri ini bahkan di berbagai
negara lain di seluruh dunia. Membuktikan bahwa ummat Islam tidak
boleh ada yang merasa miskin selama masih ada saudaranya yang tak
bosan membantu. Yang terlihat bukan semangat meminta, melainkan
semangat menolong dan memberi.

Ada semangat untuk saling memberi pertolongan sekecil apapun, jika
mungkin tercipta iklim berlomba untuk lebih dulu memberi. Kesempatan
berbuat baik memang selalu ada, jika bukan kita yang mengambilnya,
orang lain lah yang melakukannya.

Kekayaan sesungguhnya bukan pada apa yang dimiliki dan dinikmati
sendiri, melainkan seberapa banyak yang bisa dirasakan oleh saudara
dan lingkungan sekitarnya. Kekayaan sebenarnya bukan pada apa yang ada
di genggaman, melainkan tertanam dalam hati yang semakin terhibur
setiap kali membantu sesama. (gaw/tulisan ini juga bisa dilihat di
http://dompetdhuafa .or.id)