Indonesia kini hanya memiliki satu-satunya juara dunia tinju profesional, Chris John. Ia adalah juara dunia tinju kelas bulu (57,1 kg) versi WBA (World Boxing Association atau Badan Tinju Dunia). Tadi malam dalam pertarungan wajib (mandatory fight), Chris menang angka melalui duel 12 ronde melawan petinju Jepang, Hiroyuki Enoki, di Korakuen Hall, Tokyo, Jepang.
Hasil ini merupakan kemenangan ke 10 petinju kebanggan Indonesia itu dalam mempertahankan gelar selama empat tahun. Dalam pertandingan itu Chris harus bersusah payah hingga wajahnya pun bengkak-bengkak dan mengucurkan darah. Seperti kata pepatah, mempertahankan lebih sulit daripada merebutnya.

Dengan prestasinya tersebut, Chris berhak mendapatkan julukan sebagai juara dunia super di kelasnya. Tidak banyak juara dunia yang mampu mempertahankan gelarnya hingga 10 kali seperti Chris John. Ia pertama kali meraih gelar juara dunia setelah menang angka atas Oscar Leon dari Kolombia dalam pertarungan perebutan gelar ad interim. Gelarnya baru diakui setelah pemegang gelar yang sesungguhnya, Derrick Gainer (Amerika Serikat), kalah dalam penyatuan gelar IBF dengan WBA melawan Juan Manuel Marquez (Meksiko).

Chris pertama kali mempertahankan gelar dengan kemenangan atas Osamu Sato pada 2004. Kemudian berturut turut mengalahkan Jose Cheo Rojas, Derrick Gainer, Tommy Browne, Juan Manuel Marquez, Renan Acosta, Jose Cheo Rojas, Zaiki Takemoto, Roinet Caballero, dan Hiroyuki Enoki, tadi malam. Selain Chris, kita memang pernah memiliki juara dunia tinju profesional, mulai dari Ellyas Pical, Nico Thomas, dan Muhammad Rahman. Namun di bandingkan dengan tiga nama itu, Chris John yang paling fenomenal.

Prestasi dunia yang fenomenal itu sekaligus membuka mata bahwa di tengah keterpurukan prestasi di sejumlah bidang, kita masih memiliki anak bangsa yang meraih prestasi dunia. Kemenangan Chris John di Jepang merupakan angin segar dan sebuah hadiah berharga bagi bangsa ini. Negeri ini harus belajar dari anak bangsanya sendiri, Chris John. Ia telah bekerja keras untuk meraih prestasi puncak di bidangnya. Ia bukan hanya berprestasi di Tanah Air. Ia juga bisa membuktikan keunggulannya di depan publik Jepang, negeri yang justru pernah menjajah bangsa kita selama 3,5 tahun.

Kemenangannya yang diraihnya melalui proses yang sportif dengan cara menjunjung tinggi kejujuran, sopan santun, penguasaan diri, dan meningkatkan prestasi. Apa yang diraihnya memberi pelajaran berharga. Kalau Anda ingin berprestasi, bukan dengan cara instan, lewat persekongkolan, korupsi, manipulasi, dan nepotisme. ‘Penyakit-penyakit’ itulah yang membuat bangsa ini terpuruk, hingga kita bertekad menumpas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) saat memperjuangkan reformasi.

Perjuangan di tengah ring yang disaksikan jutaan pemirsa televisi itu membuat rasa bangga dan syukur bahwa ada pemuda Indonesia meraih prestasi spektakuler jelang perayaan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang. Ikrar reformasi dan sumpah pemuda bukan semata lahiriah belaka. Chris John telah mengibarkan bendera merah putih. Perjuangan harus dilakukan dengan keberanian dan kesucian.

(Sumber : Republika)