Dahulu, warna-warna yang ada di bumi bertengkar. Semua mengklaim dirinya paling bagus, dan paling berguna.
Si Hijau mengatakan, “Akulah yang terpenting. Aku simbol kehidupan dan pengharapan. Aku dipilih oleh padi, rerumputan, dan pepohonan. Tanpa diriku, semua makhluk akan mati.”
Si Biru menimpali, “Jangan hanya berpikir tentang Bumi. Lihatlah birunya langit dan lautan luas. Air adalah sumber kehidupan, Langit memberi ruang dan kedamaian.”
Si Kuning menyela, “Ah kalian terlalu serius. Aku membawa kegembiraan dan kehangatan di dunia. Matahari berwarna kuning, juga Bulan. Tanpa kehadiranku tak ada kegembiraan.”
Si Jingga tak mau kalah, “Aku simbol kesehatan dan kekuatan. Buktinya, aku dipercaya melayani kebutuhan manusia, membawa vitamin-vitamin penting bagi kehidupan manusia. Cob alihat aku pada wortel, labu, jeruk, dan pepaya.”
“Aku darah kehidupan! LAmbang keberanian dan cinta. Tanpaku, Bumi akan kosong melompong,” sela si merah.
Sementara itu si Ungu teriak,” Aku adalah warna aristokrat dan kekuatan. Para raja dan pemimpin selalu memilih warnaku untuk pakaian dan aksesori mereka.”

Pertengkaran semakin seru. Masing-masing tidak mau mengalah. Tiba-tiba muncul kilat dan gelegar suara petir, disertai hujan deras. Tanpa dikomando warna-warna itumerunduk ketakutan, lalu saling mendekat mencari perlindungan.


Sang hujan berkata, “Hei warna-warna bodoh! Jangan bertengkar! Ketahuilah, masing-masing kamu diciptakan untuk tujuan khusus, unik, dan berbeda satu sama lain. Kemarilah, saling bergandeng tangan. “Warna-warna itu melakukan apa yang dikatakan sang HUjan. Mulai sekarang setiap kali turun hujan, masing-masing kalian akan terentang di udara dalam satu pelangi yangindah, sebagai peringatan bahwa kalian harus hidup bersama dalam damai.” (Intisari, Sept/03)
—————–
Saudaraku, kita hanyalah salah satu warna diantaaranya. Sekarang bukanlah saatnya bagi kita untuk mengatakan, saya Nu, Muhammadiah, HT, JT, LDII, dan lain-lain. Bukan juga saling menyalahkan.
Inilah saatnya kita mulai bersatu, membentuk satu komposisi Islam, yang Indah, dan mendamaikan bagi siapa saja yang melihatnya. Yang akan mengokokhkan, menguatkan, dan Memepersatukan warna-warna lain yang masih bertengkar.
Sungguh aneh, jika kita bertengkar satu sama lain, sedangkan ummat lain malah bersatu untuk menghancurkan kita?
Saudaraku bersatulah, karena Allah menyukai orang-orang yang bersatu. Bahkan dalam satu buku, disebutkan bahwa para nabi pun iri kepada orang-orang yang ber-ukhuwah Islamiah tinggi.

Barangkali ada komentar bagi warna-warna yang lain…..!!!!