Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teriring
selalu kalimat basmallah, serta segala puja dan puji yang secara mutlaq
hanyalah milik Allah SWT semata. Shalawat serta salam senantiasa
terkirim atas manusia terbaik sepanjang histori manusia, Muhammad SAW
bin Abdullah bin Abdul Muthallib.

“Masih
tarbiyah akhi?” begitu pertanyaan awal seorang sahabat. Terkejut saya
mendengarnya. Saya pikir hanyalah pertanyaan penuh canda, ternyata
sebaliknya. Pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban tidak cukup
sederhana. Tidak saya jawab pertanyaan itu, namun saya balik bertanya,
“Apa yang anda maksud tarbiyah? dengan ‘t’ kecil ataukah Tarbiyah
dengan ‘T’ besar?”….

Banyak ikhwah1, sebatas pergaulan yang saya jalani dengan mereka-mohon maaf saya memang orang baru di lingkungan ini-,
dengan mantap mengatakan ikhwah adalah generasi yang berbeda lagi
istimewa. Generasi yang berbeda dengan kondisi ummat. Generasi ghurabba2 yang terkontrol. Generasi yang mudah merasa tidak nyaman jika menemui
kemaksiatan di setiap jalan yang dilaluinya. Generasi yang tidak suka
berdebat dan menyebarluaskan aib, cacat, dan kekurangan orang lain.
Generasi yang menghormati ulama. Generasi yang melindungi dan berpihak
kepada yang lemah. Generasi yang memiliki nilai-nilai moral yang
istimewa, yang karena itulah membuatnya menjadi luar biasa. Itulah
pemahaman secara teoritis, namun apakah dalam waqi’iyyah3-nya demikian pula.

Agar kembali menyegarkan ingatan kita akan tarbiyah, maka sedikit saya berbagi ilmu yang saya miliki tentangnya-mohon koreksi bila ada yang keliru, maklum ilmu saya sangat terbatas.

Pengertian
Tarbiyah secara bahasa adalah Tansyi`ah (pembentukan) , Ri`ayah
(pemeliharaan) , Tanmiyah (pengembangan) ,dan Taujih (pengarahan) .

Maka proses tarbiyah yang kita lakukan dengan menggunakan sarana dan media yang beragam dan bermacam-macam, seperti halaqoh, mabit, tatsqif, ta`lim fil masajid, mukhoyyam, lailatul katibah dan lainnya harus memperhatikan empat hal diatas sebagai
langkah-langkah praktis untuk sampai pada tujuan strategis yaitu
terbentuknya pribadi muslim da`i atau muslim shalih mushlih.
1. Tansyi`ah(pembentuk an)
Dalam proses tansyi`ah harus memperhatikan tiga sisi penting
yaitu : a. Pembentukan Ruhiyah Ma`nawiyah. b. Pembentukan Fikriyah Tsaqofiyah. c. Amaliyah Harakiyah
1. Ar ri`ayah(pemeliharaa n)
Kepribadian
Islami yang sudah atau mulai terbentuk harus dijaga dan dipelihara
ma`nawiyah, fikriyah dan amaliyahnya serta harus selalu dimutaba`ah
(dikontrol) dan ditaqwim (dievaluasi) sehingga jangan sampai ada yang
berkurang, menurun atau melemah. Dengan demikian kualitas dan kuantitas
ibadah ritual, wawasan konseptual, fikrah dan harakah tetap terjaga dan
terpelihara dengan baik. Tidak ada penurunan dalam tilawah yaumiyah, qiyamul lail, shaum sunnah, baca buku, tatsqif, liqoat tarbawiyah dan aktivitas da`wah serta pembinaan kader
1. At Tanmiyah(pengembang an)
Dalam
proses tarbiyah, Murabbi dan Mutarabbi tidak boleh puas dengan apa yang
ada dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, apalagi menganggap sudah
sempurna. Murabbi dan Mutarabbi yang baik adalah Murabbi dan Mutarabbi
yang selalu memperbaiki kekurangan dan kelemahan serta meningkatkan
kualitas, berpandangan jauh kedepan, bahwa tarbiyah harus siap dan
mampu menawarkan konsep perubahan dan dapat mengajukan solusi dari
berbagai permasalahan ummat dan berani tampil memimpin umat. Oleh
karenanya kualitas diri dan jamaah merupakan suatu tuntutan dan
kebutuhan dalam proses tarbiyah.
1. At Taujih(pengarahan) dan At Tauzhif (Pemberdayaan)
Tarbiyah
tidak hanya bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik dan
berkualitas secara pribadi namun harus mampu memberdayakan …… dan
kualitas diri untuk menjadi unsur perubah yang aktif dan produktif (Al Muslim Ash Shalih Al Mushlih).
Murabbi dapat mengarahkan, memfungsikan dan memberdayakan Mutarabbi-nya
sesuai dengan bidang dan kapasitasnya. Mutarabbi siap untuk diarahkan,
ditugaskan, ditempatkan dan difungsikan, sehingga dapat memberikan
kontribusi rill untuk da`wah, jamaah dan umat, tidak ragu berjuang dan
berkorban demi tegaknya dienul Islam.