Dalam mata kuliah-mata kuliah statistika kita sering sekali menghitung peluang terjadinya suatu kejadian atau sebuah tujuan yang akan dicapai. Bukanlah berarti bahwa manusia seolah-olah sombong dengan perhitungannya tersebut karena dianggap mendahului takdir Alloh SWT. Tapi justru itulah uniknya statistika (he..he..) yaitu untuk membantu manusia dalam memahami hakikat takdir sebenarnya. Yap..tentu saja dengan mempertimbangkan keinginan dan kemampuan manusia tersebut untuk berbuat serta berkehendak atas ijin Alloh SWT Sang Maha Pencipta.
Dalam hal ini statistika mencoba memprediksi takdir apa yang akan terjadi ataupun yang akan diterima seorang manusia apabila keinginan dan kemampuan manusia dijadikan sebagai variabel yang menentukan hasil tersebut. Selain itu dalam perhitungan statistik juga selalu dihadirkan toleransi kesalahan atau yang biasa disebut alpha (?). Sebagai faktor yang tidak bisa dikendalikan dalam dugaan kita. Sehingga kita jadikan alpha (?) tersebut sebagai bentuk dari kehendak dan kekuasaan Alloh SWT dalam menentukan takdir-Nya. Dalam perhitungan statistik, orang akan senatiasa berusaha sekuat tenaga sebagai implementasi keinginan dan kemampuannya. Karena dengan usaha tersebutlah yang akan menjadi sebab terjadinya takdir manusia tersebut. Setelah itu tentu saja implementasi alpha (toleransi kesalahan) sebagai bentuk tawakal seorang hamba kepada Sang Pencipta, yang akhirnya melengkapi refleksi iman kepada takdir Alloh SWT. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh perhitungan statistik sebagai implementasi takdir Alloh SWT berikut ini.
Kita tahu bersama bahwa rezeki yang akan diterima oleh seorang hamba adalah salah satu yang menjadi takdir Alloh SWT. Sebagai contoh, misalnya saja ada sebuah penelitian terhadap pegawai, lalu kita akan memprediksi tentang berapa besar gaji yang diterima seorang pegawai tiap bulannya sebagai sebuah variabel dependent (bebas), dan alpha (?) sebesar 5%. Lalu kita jadikan tingkat pendidikan, banyaknya pengalaman sebelumnya, lamanya bekerja di perusahaan tersebut sebagai faktor independent (tak bebas). (eit… jangan bingung dulu tetap tenang ya..). Setelah kita melakukan pemodelan contoh tersebut lalu menguji model tersebut dengan sebuah  uji hipotesis, maka kita dapatkan kesimpulan bahwa kita percaya 95% bahwa model tersebut berguna untuk memprediksi gaji yang akan diterima.
Setelah kita menguji model tersebut maka kita dapat interpretasikan setiap parameter model tersebut sebagai berikut:
•    kita percaya 95% bahwa setiap kenaikan satu tahun lamanya pendidikan mengakibatkan gaji pegawai tersebut akan naik.
•    kita percaya 95% bahwa setiap kenaikan pengalaman kerja pegawai sebesar satu kali maka mengakibatkan kenaikan gaji pegawai
•    kita percaya 95% bahwa setiap kenaikan lamanya bekerja padaperusahaan tersebut sebesar satu bulan maka mengakibatkan kenaikan gaji pegawai.
Nah..dari keterangan perhitungan statistik yang agak rumit diatas maka kita dapat menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan, banyaknya pengalaman sebelumnya, lamanya bekerja di perusahaan tersebut mempengaruhi besarnya gaji seorang pegawai. Sehingga seseorang tidak hanya pasrah begitu saja dan berharap takdir Alloh SWT dapat merubah nasibnya dengan kenaikan gaji. Tetapi seorang pegawai akan senatiasa berusaha untuk kenaikan gajinya dengan keinginan dan kemampuan yang dimilikinya seperti meningkatkan jenjang pendidikannya, atau menambah pengalaman kerja untuk memperbaiki kinerjanya.
Tetapi ada satu hal yang penting dan tidak boleh terlupakan yaitu hadirnya alpha sebesar 0,05 menandakan bahwa setiap usaha yang dilakukan oleh pegawai tersebut memiliki toleransi kesalahan. Sehingga menuntut pegawai tersebut untuk tawakal seraya berdoa memohon rezeki kepada Zat Yang Maha Pemberi Rezeki,alloh SWT. Dengan begitu pegawai tersebut dapat mengimplementasikan iman kepada takdir dengan bantuan ilmu pengetahuan bernama Statistika.
Kita tahu bersama bahwa Alloh SWT telah menurunkan Islam sebagai ajaran yang sempurna. Namun Alloh SWT jugalah yang menurunkan ilmu pengetahuan kepada manusia. Sehingga keduanya tidak akan bertentangan, tetapi justru malah akan saling melengkapi. Dimana ilmu pengetahuan dijadikan sebagai alat yang membantu manusia untuk lebih mengenal Tuhannya serta lebih mengimani hal-hal yang ghoib. Mungkin telah banyak ilmu pengetahuan yang menunjukan adanya kebesaran Penciptanya. Sehingga akan lebih meningkatkan keimanan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Statistika sebagai ilmu yang saat ini sedang bekembang adalah sebagai contoh ilmu pengetahuan sebagai alat bantu untuk memahami takdir yang Alloh SWT tetapkan. Karena seperti kita ketahui di atas bahwa dalam takdir terdapat keinginan dan kemampuan manusia dalam melakukan suatu perbuatan serta terdapat kehendak dan kekuasaan Alloh SWT dalam mementukan apa yang akan terjadi sebagai sebuah sebab akibat yang ditimbulkan. Sehingga perlunya sebuah konsep tawazun dalam berusaha dan bertawakal kepada Alloh SWT sebagai sebuah implementasi iman kepada takdir.