Satu hal yang tidak bisa kita elakkan dalam kehidupan kita adalah perubahan. Tuhan dalam firman-Nya beberapa kali mengungkapkan betapa dahsyat dan pentingnya perubahan itu. Karena itu pula dalam ayat-ayat Makkiyah (ayat-ayat yang turun di Makkah) dimulai dengan simbol-simbol perubahan. Misal, “Wal ashri” (Demi masa), “Wad Dhuhaa” (demi waktu dhuha). “Wassyamsi wa dhuhaahaa” dan sebagainya. Ini adalah simbol-simbol perubahan yang ditampilkan Allah kepada manusia untuk dimaknai dan dipikirkan.

Lantaran besarnnya dampak perubahan bagi kehidupan seseorang, Nabi Muhammad Saw pernah memberikan pesan kepada para sahabatnya untuk betul-betul dan sungguh-sunguh dalam menghadapi perubahan itu sendiri. Sebab, jika tidak, manusia yang paginya masih Muslim, bisa jadi pada siangnya ia termasuk orang-orang fasik. Bisa jadi di waktu paginya dzikir khusyu’ di mushalla, tapi siangnya ia jadi pezina, pencuri, pemabuk dunia bahkan setan besar. Atau malam harinya ia selalu membaca Al-Qur’an, tapi paginya ia tiba-tiba jadi orang malas. Tidak ada yang dapat menjamin diri kita dalam 24 jam sehari semalam dalam kondisi Islam terus.

“Bersegeralah kalian untuk beramal shaleh… Karena seseorang yang paginya Muslim, sorenya bisa jadi kafir dan yang sorenya Muslim, paginya jadi kafir….,” kata Nabi.

Kalau demikian apa yang bisa dan mampu membuat kita untuk selalu di jalan Allah (Islam)? Pertama, ikhlas. Inilah inti dari beragama. Kegiatan, rencana, program organisasi, partai politik, LSM, perusahaan apa pun yang tak diniatkan dengan ikhlas untuk Allah sia-sia saja. “Apa-apa yang mereka usahakan tidak berguna/tidak mencukupi baginya,” kata Allah dalam surat al-Lahab.

Sikap ikhlas ini pula yang membuat iblis tidak mampu menggoda seseorang. Kalau hari ini diri kita selalu jauh dari Allah berarti hati kita memang jauh dari Allah, dan si setan itulah yang dekat dengan diri kita. Artinya, hari ini nilai dan kadar ikhlas kita rendah. Kondisi ini pula yang membaut kita mudah tertipu oleh kenikmatan dan kemewahan dunia dan isinya. Tidak ada yang tahu apakah kita ikhlas atau tidak, kecuali diri kita dan Allah saja! Karena itu bila hari ini kita berbohong, ya diri kita dan Allah sajalah yang tahu.

Kedua, sabar. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengungkapkan kemulyaan dan keindahan orang-orang sabar (asshabirien). Ketinggian orang yang sabar itu pula yang membuat mereka itu dicintai Allah. “Sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang sabar”, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-arang yang sabar.” Banyak organisasi, paguyuban, partai politik, ormas, lembaga-lembaga riset, industri-industri modern, bahkan sebuah negeri hancur luluh-lantak lantaran tidak memiliki karekter sabar.

Sabar itu identik dengan ketabahan, keuletan, kegigihan, teguh pendirian dan konsistensi seseorang, masyarakat atau individu atas perubahan untuk tetap dalam ibadah, jihad, mujahadah di jalan Allah. Mereka yang rela rugi secara duniawi untuk kepentingan di akhirat, mereka yang terus mengajak kebaikan tanpa ingin pujian dan prestise apa pun, dan mereka yang selalu bertindak jujur, adil dan bertanggung jawab adalah termasuk orang-orang yang sabar.

Pertolongan Allah tidak akan datang kecuali kepada mereka yang sabar. Rasulullah dan para sahabatnya pernah mengadu kepada Allah lantaran dahsyatnya cercaan, makian, siksaan orang-orang kafir terhadap mereka. Kesabaran mereka benar-benar diuji oleh-Nya. Dan Allah pun mengatakan kepada mereka, “Bukankah pertolongan Allah sangat dekat?” Sungguh untuk menjadi orang yang sabar itu berat. Tapi beratnya sabar itu tidak sebanding dengan nilai dan manfaat dari sikap sabar itu sendiri. Inilah membuat menang sebuah gerakan manusia.

Ketiga, benar. Tidak mudah menjadi manusia benar. Apalagi kebenaran di dunia adalah kebenaran yang nisbi, relatif. Benar disini artinya kita benar dalm bersikap terhadap Allah Swt, dari mulai cara cinta, memohon, berharap, takut, ridlo, tawakkal dan sebagainya. sikap-sikap tersebut pun tidak mudah dilalui seseorang, kecuali mereka yang memiliki keikhlasan dan kesabaran. “Dan jadilah kalian bersama-sama orang yang sabar,” tegas Allah dalam firman-Nya.

Supaya kita selalu dalam kebenaran maka kita harus hidup, bergaul, bermu’amalah, berbinis, berorganisasi bersama orang-orang yang benar. Sikap benar itu pula yang orang lain menghargai, menghormati kita. Kita tidak akan dilecehkan oleh percaturan dunia jika kita memang menjadi orang-orang yang benar. Benar yang harus kita lakoni adalah benar dalam berpihak, berkata, bersikap, berpendirian dan sebagainya. Dan beruntunglah menjadi bagian orang-orang benar.

Wallahua’lam Bishshawab