t_ap162.jpgApa sih yang sebenarnya hendak kita tuju dalam hidup ini? Apa tujuan kita dalam hidup? to get a high degree of education? to get a good job? to get a beautiful wife (handsome husband)? to be influencial? to get rich? or???
Saudaraku, mungkin tujuan-tujuan hidup yang saya sebutkan di atas ada di pikiran kita. Kita tak bisa mendadak menjadi seorang yang munafiq untuk mengakui hal itu.
Hal semacam itu wajar-wajar saja kok, as human being. Akan tetapi, perlu kita sadari bahwa itu semua hanyalah tujuan temporer saja, tujuan yang sementara. Kalau diibaratkan seperti seorang musafir yang berhenti sejenak dibawah pohon rindang untuk kembali melanjutkan perjalanan yang sangat panjang dan kekal. Ada tujuan kita yang lain, yang lebih suci, yang lebih agung, dan yang lebih mendasar; karena tujuan yang satu ini mencakupi dan melandasi tujuan-tujuan temporer tersebut. Apa tujuan itu?

Allahu ghayatuna ? Allah tujuan kita……!!

Allah tujuan kita mengandung arti agar kita mengikhlaskan untuk Allah segala perkataan dan perbuatan kita, ibadah dan perjuangan kita. Sehingga kita diakui sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlisin dan menjadilah semboyan yang selalu kita ikrarkan setiap waktu dan tempat:
“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.” (Al-An’aam 162-163)
Saudaraku, sudahkah usaha-usaha kita dalam menggaet sebanyak-banyak masa, waktu-waktu tidur kita yang digunakan untuk nempel-nempel publikasi kampanye, juga tenaga kita, pikiran kita, bahkan dana-dana yang kita sumbangkan demi terpilihnya si fulan menjadi seorang pemimpin, didasarkan semata-mata hanya untuk mendapat ridha Allah? Ridhanya Allah yang telah memberikan kesempatan itu? Ridhanya Allah yang memberikan kita kekuatan dan semangat untuk melakukan itu semua? Namun sudahkah hak Allah swt terhadap cinta yang kita miliki terpenuhi?.
Limpahan karunia waktu dan kesehatan yang tak terbilang, membuat manusia lalai bahwa nikmat itu ada dan pada saat yang sama sedang dirasakan. Detik demi detik dibiarkan berlalu percuma, tanpa sedikit pun terpikir untuk membuatnya bernilai, nilailah yang membuat waktu benar-benar ada, bukankah hakikat waktu yang dimiliki oleh seorang muslim adalah ketika dia berada dalam sholat, puasa dan ibadah lainnya?, dia sangat sadar bahwa dunia hanyalah ladang menggapai akhirat (Mazra`atul Akhirat) dan bukan akhir kebermaknaan hidup, terjebak pada senda gurau yang sia-sia apalagi maksiat, jelas adalah ketololan yang nyata.
Suatu hari sahabat Umar r.a mengungkapkan cintanya kepada Rosulullah saw, “Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali terhadap diriku sendiri !”, Rosulullah saw balik menukas, “ Bahkan terhadap dirimu sendiri !”, segera Umar menyambut, “ Bahkan terhadap diriku sendiri wahai Rosulullah !”. kutuju pintuMu tuk memohon karuniaMu Buka lah Ya….Allah RidhoMu
Apa yang dapat dipetik dari dialog singkat ini? Sesungguhnya, Rosulullah saw ingin mengajarkan kepada umatnya, betapa ananiyah (egoisme) terlalu sering membutakan mata hati kita sehingga abai terhadap kebenaran yang datang mengetuk. Tidak berhenti begitu saja, ananiyah membuat seseorang dapat dengan lihai merekayasa kebathilan tampak sebagai kebenaran, atas nama kesejahteraan duniawi dan sesaat, karenanya tidak ada solusi kecuali memangkas sifat tercela ini hingga keakar-akarnya, dengan menjadikan cinta kita kepada Allah swt dan RosulNya diatas segalanya.
Kecintaan pada Allah swt dan RosulNya akan memacu semangat seorang muslim untuk berbuat yang terbaik demi menggapai keridhoanNya, disisi lain ia berfungsi ganda sebagai kendali konkrit terhadap kemaksiatan, ia menjadi nafas bagi gerak, kerja dan tindakannya, dan menjadi warna bagi ritme hidupnya. Ibnu Qoyyim pernah bertutur dalam Al-Fawaid, ”Seorang hamba tetap terputus hubungannya dengan Allah, hingga keinginan dan cintanya terhubung dengan wajahNya yang Maha Tinggi yaitu mengarahkan cinta kepadaNya dan hanya menyangkut DiriNya tanpa ada satupun penghalang”.
Saat ini, menit ini, detik ini, adalah kesempatan emas bagi kita untuk mengungkapkan cinta kita kepada Allah, sekaligus kita kembali kepada hakikat penciptaan kita dan tujuan hidup kita sebagai hamba Allah. Marilah kita renungkan sejenak hidup kita ini…. Sudahkah hidup kita ini sejalan dengan ikrar kita??? Sholat kita hanya untuk Allah? Ibadah kita hanya untuk Allah? Hidup dan mati kita hanya untuk Allah?
Itulah Saudara-saudaraku, sekedar renungan di pagi ini, marilah kita sucikan tujuan kita agar hanya untuk Allah, supaya segala amal & perbuatan kita diterima Allah sebagai tabungan untuk hari Akhir..