14682iff5lc3p69.gif Tidak dipungkiri bahwa kita semua, rata-rata pernah
mengeluh, entah karena kesulitan menjawab soal ujian, bingung
mencari pacar, subsidi bulanan tak kunjung datang, rumah terendam lumpur,
sawah tidak panen, banjir seperti yang terjadi di Jakarta juga berbagai
daerah yang menyusul, dan lain sebagainya.

Apalah arti sebuah keluhan, toh sebanyak apapun keluhan
kita tak akan mampu merubah nasib yang terus bergerak mengikuti
rel-nya, kekhawatiran pun tak akan mampu merubah apapun, bahkan hanya
membuat kita rugi dua kali lipat, seperti pepatah arab “al hadzar la
yugoyirul qodar” kekhawatiran tidak merubah takdir. Begitu pula
dalam mengarungi kehidupan ini kita tak perlu khawatir yang berlebihan,
lebih baik kita terus bergerak maju untuk berusaha semampu tenaga.

“Tidak ingat, badan celaka, terlalu ingat, badan binasa”
sebuah pepatah yang mengingatkan kita dalam beraktifitas janganlah
terlalu paranoid juga jangan terlalu gegabah, kedua-duanya merugikan.
Seperti halnya jika kita menulis tanpa mengingat perasaan orang lain,
mungkin bisa menjadikan kita celaka, begitu pula terlalu ingat dengan
kritik orang lain, kita pun mungkin akan binasa, maka jalan terbaik
adalah tetap menulis dengan resiko yang paling kecil.

“Irdloa jami’u al nâs, ghoyatun lâ tanâl” mencari keridloan
semua orang, adalah sebuah tujuan yang tak bakal tercapai. Seperti kisah
yang pernah saya tulis pada judul “Kisah Penunggang Khimar”, semua orang
punya pendapat yang berbeda dengan dasar yang berbeda pula, maka
akan rugi jika kita menjadi manusia yang tak punya pendapat sendiri, dan
terus-terusan mengikuti pendapat orang lain yang belum tentu baik untuk
kita, bahkan kalau pun pendapat mereka salah, mereka pun tak akan mau
ikut bertanggungjawab, maka kiranya tak perlu kita berharap semua orang
setuju dengan pendapat kita, cukuplah pendapat mayoritas kita katakan
lebih kuat jika kita dalam menentukan sesuatu.

Adakalanya kita butuh teman berbagi masalah yang sedang
kita hadapi, ada pula yang suka menyimpan dan memendam masalah
yang sedang terjadi tanpa ada pihak lain yang boleh menggugat apa yang
sedang kita sembunyikan. Hal demikian terkadang membuat rahasia keluarga
bocor kemana-mana namun jika yang menjadi teman berbagi adalah
terpercaya akan mampu mendapat tawaran solusi yang harus ditempuh dimasa
selanjutnya. Namun bagi yang memendam apa yang sebenarnya ia keluhkan,
mungkin juga baik demi untuk tidak mengganggu orang lain, sebab mungkin
orang lain pun tak akan dapat memberi solusi yang tepat, mungkin
diam lebih hemat kata-kata. Namun juga berbahaya jika kemampuan
membendung masalah lepas kontrol, maka sebaiknya saja hal demikian
disalurkan secara cermat.

Mungkin sedkit banyak kita akan tetap mengeluh dengan
masalah yang sedang kita hadapi, namun seyogyanya mengeluh itu
jangan sampai berlebihan, cukuplah sebagai alat pengukur temperatur hati
kita agar tidak terlalu senang disaat masalah itu hilang. Memang obat
paling mujarab untuk menenangkan hati kita ketika terjadi masalah adalah
berjalan-jalan melihat mereka yang lebih berat menanggung masalah mereka,
misalnya kita semalam tidur kedinginan karena selimut kita basah
kebanjiran, ternyata di trotoar ada orang tidur meringkuk berbantal
batako pun tanpa selimut, melihat demikian tentu kita akan bersyukur
bahwa kita masih bisa tidur dikasur.

Namun dalam hal positif kita perlu melihat mereka yang ada
diatas kita agar kita semangat untuk belajar, beribadah, maupun hal-hal
positif yang lain, biarlah jalan kita sedikit zig-zag jikalau jalan yang
lurus itu terlalu mahal harganya, apalagi jalan tol, memang berjalan
lurus itu sangat sulit, apalagi secara terus menerus. Memandang
saja kita tak akan mampu selalu lurus kedepan, kita lebih suka menoleh ke
kiri dan kekanan.

Sedemikian mahalnya jalan yang lurus, hingga kita selalu
berdo’a “tunjukkan kami jalan yang lurus” apalagi untuk melintas
dijalan yang lurus perlu istqomah atau kontinyu, tentu tidak sembarang
orang bisa kontinyu, misalnya sholat lima waktu adalah termasuk jalan
yang lurus, untuk istiqomah kita masih belum mampu, maka tak heran
terkadang kita masih meng-qodlo’nya, apa boleh buat ternyata memang berat
untuk kontinyu, bahkan orang punya karomah pun belum tentu bisa
istiqomah, sebagaimana pepatah arab “al Istiqomatu khoirun min alfi
karomah” Istiqomah (kontinuitas) lebih baik dari seribu karomah.

Maka biarkanlah orang-orang yang masih berusaha menuju
istiqomah, tak perlu kiranya anda memberi stempel yang terlalu kasar
terdengar ditelinga, toh anda pun belum tentu lebih baik diakhir nanti,
sementara Allah maha besar dan menurutku jalan menuju-Nya sebanyak orang
yang berjalan menuju-Nya, dan kita akan menemui Allah dengan
sendiri-sendiri.

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri
sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di
belakangmu apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada
melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu
sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah antara
kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap . QS.6:94

Kalau selama ini anda menganggap Allah sebagai musuh, maka
anda pun akan berhadapan langsung face to face. Begitu pula jika kita
selama ini menganggap Allah sebagai kekasih kita, maka kita pun akan
bertemu face to face. Tidak pantas bagiku memaksa engkau menjadi
kekasihNya, pun juga tak baik bagiku menganggap engkau adalah
musuhNya, aku hanya akan mengikuti kata-kataNya siapa yang dianggap musuh
bagiNya, dan siapa yang dianggap kekasih menurutNya.